Berwirausaha Berbasis Teknologi Tepat Guna Atas Dasar Kepedulian dan Passion

4 Oct 2018 | 18:38

Manusia diciptakan Tuhan untuk menjadi khalifah di bumi ini. Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak bermanfaat bagi orang banyak. Caranya adalah dengan peduli pada lingkungan sekitar. Kepedulian ini akan membuahkan jalan menuju kesejahteraan bersama.

Demikianlah intisari dari sebuah talkshow yang berlangsung di Panggung Utama BEKRAF Habibie Festival 2018 pada Jumat (21/9) lalu. Acara yang dipandu oleh Diyanto Imam, Direktur Eksekutif Yayasan INOTEK ini membuka wawasan para hadirin bahwa peluang berbisnis teknologi tepat guna bagi tahap pemula maupun lanjutan agar dapat sukses berkelanjutan harus disertai dengan peran organisasi pendukung, yaitu inkubator dan fasilitas pendanaan fintech. Hal itu merupakan salah satu elemen penting dalam ekosistem kewirausahaan.

Tiga pengusaha berbasis teknologi tepat guna menjadi narasumber talkshow, berbagi tentang berbisnis yang idenya lahir karena kepedulian pada lingkungan. Bima Prabowo, salah satunya, menggagas alat pemadam api medium. Idenya tercetus setelah melihat kebakaran gedung Menara 165 Jakarta dari tempat tinggalnya di permukiman yang padat. Ia menyaksikan sendiri bagaimana personil pemadam kebakaran bersusah payah harus menarik selangnya melewati permukiman yang padat penduduk untuk dapat memadatkan api. Akhirnya ia menciptakan alat pemadam api medium portable yang hanya digerakkan oleh putaran ban belakang sepeda motor. Alat ini mudah digunakan dan data menjadi solusi bencana kebakaran di wilayah yang padat penduduk.

Cerita kedua diungkapkan Cepi Al Hakim, pencipta sumur resapan bertajuk “Green Well”. Saat Cepi masih berstatus sebagai pegawai, ia bersama teman-temannya membuat komunitas menanam pohon. Awalnya asal menanam saja, tapi kemudian timbul permasalahan kekurangan jumlah debit air hujan dan ketiadaan resapan air di bawah pohon sehingga tanaman tidak dapat berkembang dengan baik. Dari situlah ia mempelajari cara membuat sumur resapan air yang efisien dan mudah digunakan. Dengan berbahan beton, sumur resapan buatan Cepi dapat digunakan cukup dengan menggali tanah dengan kedalaman 3 meter dan diameter 1.2 meter, memiliki daya tampung 6,4 kubik. Air hujan yang melimpah jika disimpan dalam sumur resapan, saat kemarau akan sangat berguna.

Narsumber ketiga yang berbagi cerita adalah Amin, pencipta converter kit “Amin Ben Gas”. Keprihatinan Amin terhadap para nelayan yang menghabiskan 70% keuntungannya untuk membeli bensin sebagai bahan bakar kapal membuatnya berinovasi membuat alat converter kit gas menjadi bahan bakar kapal. Kini ia sudah bekerja sama dengan pemerintah sehingga para nelayan dapat merasakan manfaat alat ciptaannya. Amin pun sedang merambah ke alat pertanian agar para petani bisa terbantu juga.

Ketiga pengusaha inovator tersebut dibina oleh Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (INOTEK), sebuah inkubator bisnis yang didirikan pada 17 Januari 2008 untuk mendukung pengembangan usaha pemula, kecil, dan menengah yang berbasis teknologi tepat guna. Pendirian INOTEK didasari oleh keyakinan yang kuat bahwa inovasi teknologi yang aplikatif dan tepat guna akan memberi manfaat dan dampak sosial dan ekonomi yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. INOTEK didirikan atas prakarsa Arief Tarunakarya Surowidjojo dan Sandiaga Salahuddin Uno.

Di akhir sesi, seluruh pengisi acara sepakat bahwa menjalankan bisnis harus mengikuti passion atau gairah untuk mengerjakannya. Kalau tidak, saat hinggap kemalasan dan kegagalan maka tidak ada motivasi untuk meneruskannya. (Rida Permata Sari/CP)